Wanita Hamil Beri Anaknya Pada Wanita di Pesawat, Kenapa?

Kehadiran seorang buah hati di tengah-tengah keluarga, tentu menjadikan hal yang sangat membahagiakan. Apalagi jika kehamilan sang ibu sudah sangat dinanti-nantikan sejak sangat lama.

Namun, beberapa orang justru mengalami insiden sehingga harus memperoleh anak di tengah-tengah suasana yang kurang mengenakkan.

Seperti misalnya, kehamilan di luar nikah atau kehamilan di tengah-tengah pernikahan yang hancur (perceraian) sebelum kehamilan sang jabang bayi.

Menjadi seorang single parent’s tentu bukanlah hal yang sangat mudah untuk dilakukan, kecuali memiliki perekonomian yang sangat berkeckupan.

Keribetan mengurus anak sendirian, belum lagi harus banting tulang untuk bekerja menjadi hal yang sangat sulit dilakukan oleh seorang single parent’s.

Mungkin hal ini juga yang dialami oleh seorang wanita yang tengah hamil ini dan harus berpisah dari sang pacar lantaran kerap kali diperlakukan dengan kasar.

Demi bisa bertahan dan hidup dengan jauh lebih baik, ia memutuskan dengan nekat meninggalkan sang kekasih begitu saja.

Ya, jika dipikir-pikir mungkin jalan itulah yang baik untuk diambil daripada terus menderita seperti itu.

Wanita bernama Samantha ini, memang memiliki sosok kekasih yang kasar dan kerap kali menyiksanya. Padahal, kini ia tengah mengandung buah hatinya.

Ketika usia kehamilan menginjak 12 minggu, Samantha kabur ke tempat ibunya tinggal di Arkansas.

Di sana, ia menghabiskan berbulan-bulan untuk melepaskan stres dan depresi, berjuang merencanakan masa depan untuknya dan calon buah hatinya.

Meski ibunya mengatakan akan menjaga anaknya kelak, Samantha tahu itu bukan yang terbaik.

Namun akhirnya, cahaya yang dinantikan Samantha datang.

Di usia delapan bulan kehamilan, ia memutuskan terbang ke North Carolina untuk mengunjungi kekasih barunya.

Sempat mengalami tertinggal pesawat, Samantha melanjutkan pergi dengan penerbangan selanjutnya.

Ia kemudian duduk di sebelah Temple Phipss.

Dua wanita itu menghabiskan waktu di pesawat dengan berbincang, tertawa, menangis, dan berbagi cerita.

Samantha tak ragu menceritakan perjuangannya di masa lalu.

Sementara Temple Phipss yang hidup sendiri, mengatakan sangat menginginkan buah hati.

“Dia adalah wanita yang ramah dan manis. Dia benar-benar orang yang aku butuhkan saat aku ketakutan dan sendirian. Dia seperti teman lamaku setelah beberapa menit berbincang. Kami benar-benar orang asing yang berubah menjadi orang yang seolah saling mengenal sepanjang hidup,” ungkap Samantha.

Samantha dan Temple sayangnya harus berpisah ketika pesawat mendarat.

Namun yang tak terduga, Samantha melahirkan tiga minggu lebih awal.

Di saat itulah, ia memutuskan untuk menghubungi Temple.

Dalam Love What Matters, Samantha menceritakan pertemuannya lagi dengan Temple di rumah sakit di North Carolina pada 6 Oktober 2016.

Saat itulah, Temple langsung jatuh hati dengan Vaughn, yang merupakan anak dari Samantha.

Melihat koneksi itu, Samantha memutuskan hal besar dalam hidupnya: Ia meminta Temple mengadopsi bayinya.

Temple pun setuju melakukan itu dan sekitar dua minggu kemudian Temple bisa membawa Vaughn sebagai anaknya.

“Itu luar biasa. Kadang, aku hanya duduk dan melihat mereka bersama. Saat itulah aku merasa mereka tercipta untuk satu sama lain. Dia ditakdirkan untuk bertemu aku, dan dia ditakdirkan untuk menjadi ibu dari anakku,” ungkap Samantha.

Proses adopsi itu selesai pada Agustus 2017 lalu.

Sejak saat itu, Temple menjadi sosok ibu untuk anak Samantha.

Samantha juga memutuskan untuk pindah ke North Carolina agar lebih dekat dengan Temple dan anaknya, Vaughn.

Kini, dua wanita itu berencana menulis buku tentang perjalanan mereka.

Kamu adalah seorang single parent’s baru? Cobalah untuk menjalani hidup dengan menjadi seorang single parent’s yang baik.

1. Penyesuaian Diri

Baik mereka yang telah dewasa maupun anak-anak harus mampu berbuat lebih baik ketika orangtua tunggal dianggap sebagai pilihan yang layak dan bukan sebagai situasi patologis. Mulailah dengan sikap positif dan fokus pada manfaat dari orangtua tunggal, seperti mengurangi konflik dan ketegangan di rumah. Banyak orang tua tunggal menghargai otonomi baru mereka dan merasa penuh harapan tentang masa depan.

2. Bijaksana mensikapi beban tugas

Para orangtua tunggal sering merasa kewalahan oleh tanggung jawab, tugas, dan terlalu emosional untuk membesarkan anak-anak mereka. Oleh karena itu, penting untuk mengatur waktu dengan bijaksana dan untuk meminta bantuan bila diperlukan. Karena itu, beban tugas harus dibagi jika dimungkinkan dan tak sungkan meminta bantuan orang lain bila memang diperlukan.

3. Mengasuh dan Membesarkan Anak

Mengasuh dan membesarkan anak adalah prioritas tinggi, tetapi anak-anak juga mendambakan stabilitas dan keamanan.  Anak-anak sangat membutuhkan rasa aman dan dilindungi. Menjadi kewajiban orang tua untuk menciptakan lingkungan pengasuhan di mana mereka dapat berkembang. Anak-anak kamu perlu mendengar betapa kamu mencintai mereka dan betapa bangganya kamu memilikinya.

Jangan takut dan belajarlah menjadi seorang single parent’s yang baik dan membanggakan.

Shares

Powered by moviekillers.com