Habiskan Uang Rp 110.000 Saja Untuk Makan Setahun, Bisa Cukup?

Kebutuhan hidup yang semakin meningkat, serta harga-harga semua kebutuhan pokok yang semakin meningkat harganya. Tentu membuat orang-orang menjadi kebingungan dalam upaya untuk memenuhinya.

Tak jarang, orang harus bekerja banting tulang dan mati-matian demi bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya.

Sebenarnya, dari semua kebutuhan hidup yang ada di dunia. Kebutuhan akan makanan sehari-hari adalah yang paling pokok untuk dipenuhi.

Makanan, tentu bisa membuat manusia memiliki energi dan tetap bertahan hidup. Bayangkan saja, apa jadinya jika manusia tidak dapat makan sama sekali?

Tentu kehilangan nyawa, mungkin saja dialami secara tiba-tiba bukan?

Namun, biaya untuk memenuhi makanan sendiri saja juga sudah cukup mahal dan tak jarang membengkak. Coba hitung, berapakah kamu menghabiskan uang dalam sekali makan?

Katakan saja Rp 5.000 ribu sekali makan. Coba kalikan tiga? Rp 15.000 ribu untuk sehari makan. Kemudian, belum dikali seminggu, sebulan, bahkan setahun.

Jika dihitung-hitung pasti banyak sekali bukan jumlahnya?

Tapi, siapa sangka jika ada sosok orang yang bisa menghemat anggaran makan setahun untuknya hanya dalam jumlah Rp 110.000 ribu saja lho (dalam setahun).

Percaya tidak?

Ya, Seorang pria yang diketahui bernama Daniel Tay inilah yang menghabiskan uang dalam jumlah sedikit tersebut untuk kebutuhan makannya sendiri.

Kok bisa ya? Padahal, orang kebanyakan tentu akan menghabiskan uang dalam jumlah lebih dari itu untuk memenuhi kebutuhan makannya.

Rupanya, Daniel ini dikenal sebagai seorang pemburu harta karun di tempat sampah.

Daniel, akan mencari makanan-makanan yang masih bisa digunakan dan juga barang-barang lainnya yang masih bisa digunakan untuk dirinya.

Selain itu, terlepas dari itu Daniel menerapkan hidup antokonsumerisme dan memilih untuk meminimalkan sampah-sampah yang ada demi bisa menjaga lingkungan hidupnya.

Pria 38 tahun ini mengungkapkan, “Seorang freegan adalah orang yang menghabiskan uang sedikit mungkin, mencoba mendapatkan sesuatu dengan cara gratis.”

Menurut Daniel, menjadi seorang pemungut sampah di Singapura sangatlah memungkinkan.

Daniel sendiri mengungkapkan bahwa ternyata banyak barang-barang yang masih dalam kondisi bagus yang dibuang oleh orang lain ke tempat sampah dan bisa ia manfaatkan.

Mungkin, di banyak negara lain tidak bisa menerapkan seperti apa yang Daniel lakukan karena mereka menganggap bahwa sampah tetaplah sampah yang tak berguna.

Berkat kebiasaannya tersebut, setiap bulannya Daniel hanya perlu mengeluarkan uang sedikit untuk hal-hal yang diperlukannya saja, seperti membayar tagihan, investasi, dan juga hipotek.

Meskipun kenyataannya ia lebih sering membelikan kucingnya makan daripada untuk dirinya sendiri. Tapi itu ia lakukan dengan senang hati.

Hal yang mencengangkan lagi adalah jumlah biaya yang ia keluarkan dalam setahun untuk makanannya sendiri.

Faktanya, ia hanya menghabiskan total 8 dollars atau Rp110 ribu untuk makanan tahun kemarin.

Gaya hidup Daniel ini bermula pada tahun 2016 ketika ia bertemu dengan seorang pria bernama Colin.

 Colin telah terlebih dahulu menjalani freegan selama satu tahun, Daniel pun menjadi terinspirasi dan ingin mencoba.

Daniel memulai perjalanannya dengan menghubungi tetangga untuk memberi sisa makanan padanya.

Para tetangga pun dengan senang hati memberikannya daripada hanya dibuang ke tempat sampah.

Setiap pagi, Daniel menemukan banyak makanan di depan pintunya.

Hubungannya dengan para tetangga pun makin akrab.

Daniel mendapat banyak roti, buah dan sayuran.

Selain itu, kebutuhan harian lain seperti pakaian dan alat-alat mandi pun bisa dengan mudah ia dapatkan di tempat sampah.

Ia pun tidak pernah pilih-pilih makanan sehingga mudah baginya untuk mengkonsumsi apapun yang ia punya.

Selain itu, Daniel juga tidak memiliki anak sehingga tidak ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun selain dirinya sendiri.

Gaya Hidup Freegan

Kaum freegan adalah mereka yang prihatin dengan kenyataan bahwa telah terjadi pemborosan yang dahsyat demi sebuah gaya hidup.  hidup sebagai Freeganis adalah sebuah pilihan bukan suatu keterpaksaan.

Bagi kaum Freegans hidup bahagia dapat diraih tanpa harus membuang-buang sumber daya alam (resources), sumber daya manusia (jam kerja yang lama) dan sejumlah penghematan lainnya, andaikan yang berlebihan bahan makanan dan pakaian dapat memberikan kepada yang kekurangan. Dalam istilah ekonomi mainstream distribusi mestinya dikedepankan, daripada akumulasi.

Jadi, kira-kira berniatkah kalian untuk menjadi kaum freegan?

 

Shares

Powered by moviekillers.com