Daleman Wanita Seharga Sepuluh Juta Ini Membawa Petaka

Biasanya pelaku tindak kejahatan atau melakukan sesuatu hal yang melanggar norma hukum, biasanya akan berujung dengan hukum atau lebih parahnya dapat dikenakan sanksi kurungan selama batas waktu yang telah ditetapkan. Namun anehnya, seorang perempuan tanpa dosa ini malah tersandung kasus hukum dan mengakibatkan dirinya harus mendekam di dalam penjara selama kurang lebih empat bulan lamanya. Jadi, apakah yang diperbuat perempuan tersebut sehingga membuatnya dibui?

Seorang pemilik laundry bernama Rosmalinda (35 tahun), divonis oleh jaksa kurungan selama 4 bulan lamanya.  Dia dijebloskan ke dalam Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Linda dijatuhi hukuman lantaran dinilai telah merusakkan pakaian seorang konsumen nya bernama Rose Lenny.

Lantas apa sih sebenarnya pakaian yang dirusakkan oleh pemilik laundry tersebut?

  1. 2 lusin bra (BH)
  2. 2 lusin celana dalam
  3. 5 buah selimut
  4. sejumlah taplak meja (Rose tak ingat jumlahnya)
  5. 2 kain ulos

Jadi itulah barang-barang yang di laundry oleh Rose Lenny. Kasus ini sebenarnya bermula saat Rose memutuskan untuk memasukkan cuciannya ke dalam laundry milik Rosmalinda yang terletak di daerah Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, pada tahun 2012 yang silam.

Setelah menimbang berat cucian yang akan di laundry tersebut, cucian tersebut ternyata memiliki berat sebesar 26kg. Tarif yang dibebankan untuk laundry per kilonya adalah Rp.3.000 rupiah saja. Hingga jika ditotal jumlahnya sebesar Rp.78.000 untuk membayar biaya semua cuciannya.

Sama dengan laundry lainnya yang bisa mengerjakan dengan cepat. Setelah semua cucian Rose selesai dicuci, Linda mengantarkan semua cucian Rose ke rumahnya. Namun Rosmalinda tidak dapat menemukan alamat rumah Rose yang diberikan. Setelah ditunggu-tunggu, Rose juga tak kunjung menampakkan diri hingga satu tahun lamanya.

Akhirnya setelah setahun berlalu, Rose kembali ke laundry tersebut dan mendapati semua cuciannya telah rusak. Sehingga muncullah kemarahan Rose pada Rosmalinda. Tanpa berpikir panjang, Rose kemudian melaporkan Rosmalinda ke pihak yang berwenang. Hingga masalah tersebut akhirnya harus diproses melalui jalur hukum. Rose mengaku pakaian dalam dkk yang rusak itu senilai total Rp 10 juta.

Awalnya polisi enggan menahan Linda. Tetapi setelah kasus itu berpindah ke kejaksaan, jaksa langsung menahan Linda dan menjebloskan Linda ke Rumah Tahanan Negara (Rutan). Tidak tanggung-tanggung, jaksa menuntut Linda hukuman selama 1 tahun penjara. Atas tuntutan ini, Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) menilai sebaliknya.

Majelis hakim menilai perbuatan Linda memang benar adanya, tetapi perbuatan itu bukanlah kejahatan. Pada 7 Oktober 2013, PN Jaktim akhirnya melepaskan Linda. Jaksa tak terima dan ngotot agar Linda dihukum 1 tahun penjara. Berkas kasasi pun dilayangkan dengan tuntutan sama: Linda harus dipenjara 1 tahun! Tapi apa kata MA?

“Menolak permohonan kasasi dari penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Jakarta Timur (Kejari Jaktim),” ujar ketua majelis, yaitu hakim agung Dr Andi Abu Ayyub Saleh, dengan anggota hakim agung Eddy Army dan Sumardjiatmo.
Majelis kasasi sependapat dengan pertimbangan PN Jaktim yang menyatakan kasus itu bukanlah kasus kejahatan pidana. Perbuatan terdakwa tidak memenuhi unsur tindak pidana, baik Pasal 374 maupun Pasal 372 KUHP.

Upaya yang dilakukan oleh pihak kejaksaan ini yang dengan serta merta memperkarakan masalah sepele hingga berakibat dibuinya seseorang, membuat Rosmalinda seharusnya bisa mengajukan kompensasi atas kejadian tersebut.

Lantas apa kompensasi negara yang harus diberikan kepada Rosmalinda? Linda dapat mengajukan gugatan ke PN Jaktim dan meminta ganti rugi atas apa yang dialaminya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 92 Tahun 2015, berikut kompensasi yang bisa didapat Linda:

1. Ganti kerugian berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf b dan Pasal 95 KUHAP paling sedikit Rp 500 ribu dan paling banyak Rp 100 juta.

2. Besarnya ganti kerugian berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 KUHAP yang mengakibatkan luka berat atau cacat sehingga tidak bisa melakukan pekerjaan, besarnya ganti kerugian paling sedikit Rp 25 juta dan paling banyak Rp 300 juta.

3. Besarnya ganti kerugian berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 KUHAP yang mengakibatkan mati, besarnya ganti kerugian paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 600 juta.

Memang seharusnya jaksa harus lebih berhati-hati lagi dalam menentukan keadilan. Apalagi bagi rakyat kecil. Jangan sampai masalah sepele kemudian menjadi diperuncing, apalagi hingga sampai ke ranah bui. Rasanya mungkin lebih bijak lagi ya ketika menetapkan hukuman, jangan sampai salah sasaran seperti ini.

 

 

Shares

Powered by moviekillers.com