Ada Istana Negara Untuk Lansia Di Wonogiri

Pembangunan infrastruktur dan juga sarana prasarana yang lebih baik memang sedang banyak digalakkan di beberapa daerah-daerah yang diharapkan memiiki potensi untuk lebih maju. Tidak heran jika banyak daerah yang mulai merubah dan juga menambah infrastrukturnya agar lebih baik dan lebih terpandang, bahkan bisa dijadikan sebagai destinasi tujuan ketika liburan tiba.

Baru-baru ini sebuah Kota di Jawa Tengah ini memang juga membangun beberapa infrastruktur mulai dari tempat wisata, tata pemerintahan, hingga kabarnya juga membangun sebuah istana negara.

Wacana pemindahan ibu kota negara selama ini sama sekali tidak menyinggung daerah Wonogiri di Jawa Tengah sebagai altenatif lokasi baru. Namun sebuah bangunan megah mirip istana negara sedang dibangun di sebuah desa di Wonogiri.

Di Kota Wonogiri inilah, sebuah istana negara dibangun dan difungsikan. Namun uniknya, istana negara ini justru bukan diperuntukkan bagi kepala negara, melainkan diperuntukkan bagi para kaum lansia yang dikumpulkan dan dipersilakan untuk berkumpul di istana negara tersebut.

Meski, pada umumnya istana negara biasanya identik diperuntukkan bagi para kepala negara. Istana negara yang satu ini memang sengaja dibuat untuk tujuan sosial, dengan memanfaatkan fungsi bangunan ini sebagai menjamu bagi para lansia yang memang merupakan tujuan yang begitu mulia.

Bangunan yang berdiri begitu megah dengan didominasi warna putih dan arsitektur menyerupai Istana Negara atau Istana Kepresidenan Jakarta, Istana Parnaraya di Wonogiri mempunyai fungsi lainnya. Bangunan megah ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan persoalan atau urusan kepresidenan atau pemerintahan, melainkan diperuntukkan bagi orang-orang lanjut usia (lansia).

Bangunan itu memang dirancang mirip sekali dengan istana negara di Jakarta, lengkap dengan 5 pilar berdiri kokoh pada teras bangunan utama. Warna serba putih membuatnya semakin terasa mewah. Hal itulah yang membuat kompleks seluas 2.500 meter persegi itu disebut sebagai istana.

‘Istana’ itu berada di Desa Kebonagung RT 01 RW 02, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri. Lokasinya cukup mudah ditemukan. Dari Alun-alun Kabupaten Wonogiri, harus menempuh perjalanan sekitar 20 km ke arah timur. Sampai di Pasar Sidoharjo, belok arah ke selatan sekitar 2 km.

Oleh pemiliknya yang juga merupakan seorang pengusaha asal Sidoharjo, Suparno, 47tahun ini, istana ini dibuat khusus untuk para orang lansia. Secara berkala, bangunan di Dusun Kebonagung RT 003/RW 001, Desa Kebonagung, Sidoharjo, itu akan dijadikan sebagai tempat berkumpul ratusan orang lansia dari 17 dusun di Sidoharjo yang dua tahun ini disantuninya.

Selama ini, Suparno memang secara rutin memberikan santunan setiap bulannya kepada mereka yang hidup sebatang kara, miskin, dan mendapat perlakuan kurang layak. Dia ingin menempatkan mereka di istana agar mereka senang. Mereka secara bergiliran akan diundang ke istana makan bersama, bercengkerama, pengajian, dan kegiatan positif lainnya saat Suparno pulang ke Wonogiri.

Dia memastikan mereka akan mendapat perlakuan layaknya orang tua yang dirawat oleh anaknya sendiri. Suparno mengaku begitu prihatin melihat begitu banyak orang jompo yang kurang diperhatikan oleh keluarganya. Misalnya, kamar tidur mereka ditempatkan di dapur, di bawah talang, atau tempat kurang layak lainnya.

Dia berharap bahwa langkahnya tersebut dapat menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Pasalnya, di Sidoharjo saja masih ada 1.500 orang lansia yang kondisinya sangat memprihatinkan. Disinggung mengenai pemanfaatan istana jika tak digunakan untuk mengumpulkan orang lansia, Suparno berencana menjadikannya tempat wisata dan pusat kegiatan masyarakat.

Kompleks istana terdiri atas empat bangunan, yakni bangunan utama Istana Parnaraya seluas kurang lebih 200 m2 dengan tinggi lebih dari 12 meter. Interior Istana Parnaraya dilengkapi kursi dan meja kayu mewah, lukisan orang tua dan penari Bali, dan seperangkat alat elektronik canggih.

Di belakangnya terdapat bangunan berukuran 6 m x 15 m yang sedianya akan dijadikan studio film biografi dan museum karya usaha Suparno, dan sisi kirinya ada bangunan 20 m x 8 m menyatu dengan musala. Bangunan itu akan dijadikan kafe yang diberi nama Kafe Cah Tukang Dolan (CTD). Bangunan lainnya adalah garasi mobil dan sepeda motor.

Keren sekali ya guys, lain waktu rasanya harus berkunjung kesana ya ketika pembangunanya sudah 100 persen rampung.

 

 

 

Shares

Powered by moviekillers.com